Desa Pongka Kabupaten Bone

Kampung pongka di Kecamatan Tellu Siattinge Kabupaten Bone sekarang ini bukanlah sekadar sebuah tempat pemukiman yang lahir secara alamiah berdasarkan pewaris keluarga tradisional di daerah itu. Negeri ini, sesun
gguhnya dalam sejarah Bone, adalah sebuah “Pemukiman Baru” karena muncul jauh sesudah “kota-kota” lainnya lama dikenal dalam sejarah. Berbeda dengan ibukota kerajaan Bone tempo dulu di Lalengbata, negeri Pongka, ternyata dibangun sekel
ompok migran dari kabupaten Soppeng yang terpaksa memilih pengasingan diri dan keluarga mereka dari kampung halaman karena prot
esnya yang tak pernah mempan terhadap kesewenang-wenangan penguasa di Soppeng pada waktu itu.
gguhnya dalam sejarah Bone, adalah sebuah “Pemukiman Baru” karena muncul jauh sesudah “kota-kota” lainnya lama dikenal dalam sejarah. Berbeda dengan ibukota kerajaan Bone tempo dulu di Lalengbata, negeri Pongka, ternyata dibangun sekel
ompok migran dari kabupaten Soppeng yang terpaksa memilih pengasingan diri dan keluarga mereka dari kampung halaman karena prot
esnya yang tak pernah mempan terhadap kesewenang-wenangan penguasa di Soppeng pada waktu itu.Tetapi negeri yang dibangun agak jauh dari kampung halaman ini, bukan pula sekadar “pelarian” yang terpaksa dan ditata secara sepintas lalu. Di sini imajinasi leluhur Pongka, selaku penduduk asal Soppeng dikembangkan. Pemukiman itu ditatanya sedemikian rupa, dimana mereka mempunyai kedudukan untuk mangatur pola hidup dan pemerintahannya sendiri.
Dengan melihat motivasi berdirinya Pongka dapatlah dipahami, betapa negeri ini lahir dari protes sosial dan betapa, ia merupakan daerah pelarian yang aman bagi mereka yang membutuhkan kebebasan, Ihwal terjadinya perpindahan ini dituturkan dalam folklore Bone, sebagai suatu peristiwa yang menyedihkan hati dan penuh duka nestapa. Para pemuka Pongka yang tahu persis jalannya sejarah perpindahan itu dari orang tua mereka secara turun temurun, dengan bangga menceritakan betapa, sakit hati dan juga dendam bercampur baur. Kerinduan yang sangat kepada kampung halaman tempat kelahiran ternyata tak pernah terp
enuhi lagi, karena itu pengungsian ke Pongka merupakan pilihan terbaik yang mesti dilakukan.
enuhi lagi, karena itu pengungsian ke Pongka merupakan pilihan terbaik yang mesti dilakukan.Motivasi perpindahan ke Pongka, disebutkan dalam sejarah, antara lain karena penguasa di Soppeng waktu itu, melakukan hal-hal yang sangat bertentangan dengan hati nurani rakyat. Penindasan, pemerkosaan, dan pemaksaan telah menjadi semacam paket yang menyatu dalam kehidupan rakyat jelata. Bayangkan, betapa sakit hati sejumlah orang tua, bila dengan mata kepala sendiri karena tanpa daya menyerahkan anak –anak gadisnya yang sedang mekar untuk disantap oleh punggawa-punggawa yang kejam di wilayah itu.
Tidak tahan oleh penyiksaan yang berlarut, rakyat di bawah koordinasi seorang panglima perang bernama Petta Makkuli Lajengnge dan rekannya Petta Pabbaranie melakukan perlawanan frontal terhadap dinasti yang berkuasa. Perlawanan kemudian dilanjutkan dengan pilihan terakhir untuk meninggalkan daerah asal bersama seluruh rakyat yang bersimpati kepada mereka. Dalam perjalanan meninggalkan kampung, mereka menempuh jalur yang meletihkan. Namun, kerinduan akan ketenangan dan kerukunan serta kebebasan dan kemerdekaan semakin memberi kekuatan kepada mereka untuk terus berjalan. Sebagai pedoman dalam perjalanan itu, mereka hanya merujuk pada sebuah gendang ajaib
yang dibunyikan setiap kali memasuki sebuah wilayah yang sepintas lalu kelihatan cocok untuk ditinggali. Tetapi, mana kala gendang itu dibunyikan, ia tetap mengeluarka bunyi yang monoton, dengan gema yang Panjang. Bilamana bunyi yang seperti itu keluar dari pukulan gendang, itu berarti mereka belum mendapatkan tempat tinggal yang ideal.
yang dibunyikan setiap kali memasuki sebuah wilayah yang sepintas lalu kelihatan cocok untuk ditinggali. Tetapi, mana kala gendang itu dibunyikan, ia tetap mengeluarka bunyi yang monoton, dengan gema yang Panjang. Bilamana bunyi yang seperti itu keluar dari pukulan gendang, itu berarti mereka belum mendapatkan tempat tinggal yang ideal.Dalam perjalanan, mereka megabadikan beberapa nama kampung disesuaikan bunyi gendang yang ditalu, kampung – kampung itu sampai sekarang masih ada disebut ; Baringeng, Lacenno (karena bunyi gendangnya nyaring) dan kampung Mario, karena bunyi gendangnya riuh rendah (Bugis =Mario). Tatkala mereka tiba disebuah tempat , dengan segera gendang itu dibunyikan kembali. Ternyata bunyinya kali ini agak lain dan justru membuat seluruh anggota merasa gembira. Bunyi gendang yang mirip dengan suara kang-kang-kang itu diartikan dalam bahasa bugis sebagai ENGKAU AJUDO atau “ADA”. Karena itu, lokasi ini kemudian dinamakan dengan Pongka, artinya dasar kemakmuran. Dengan adanya bunyi yang berarti “engka” merekapun bersorak gembira. Gemuruh suara kegembiraan bertaluh mengiri
ngi bunyi gendang yang menggema sampai riuh di tengah hutan lindung yang teduh. Atas kesepakatan, penduduk dan rombongan dari soppeng itu kemudian mengambil keputusan untuk menetap di lokasi itu. Bahkan pada awalnya mereka membangun rumah pantang menghadap ke arah Soppeng. Karena wilayah itu masuk dalam daerah kerajaan Bone , maka pimpinan rombongan mengirim utusan untuk menghadap Datu Ulu Kerajaan Bone. Rencana mereka untuk menetap disana disetujui Raja Bone, dan sejak itulah, penduduk pindahan ini memulai sejarahnya di tempat baru, dengan harapan-harapan baru. Untuk mamperingati perpindahan bersejarah itu, penduduk Pongka seringkali mengadakan pesta rakyat dengan api yang bernyala-nyala yang dikenal hingga kini Sijujju Sulo yang digelar sekali tiga tahun. Bahkan Acara Sijujju Sulo ini telah menjadi kalender Nasional. (Teluk Bone : Salama Topada Salama)
ngi bunyi gendang yang menggema sampai riuh di tengah hutan lindung yang teduh. Atas kesepakatan, penduduk dan rombongan dari soppeng itu kemudian mengambil keputusan untuk menetap di lokasi itu. Bahkan pada awalnya mereka membangun rumah pantang menghadap ke arah Soppeng. Karena wilayah itu masuk dalam daerah kerajaan Bone , maka pimpinan rombongan mengirim utusan untuk menghadap Datu Ulu Kerajaan Bone. Rencana mereka untuk menetap disana disetujui Raja Bone, dan sejak itulah, penduduk pindahan ini memulai sejarahnya di tempat baru, dengan harapan-harapan baru. Untuk mamperingati perpindahan bersejarah itu, penduduk Pongka seringkali mengadakan pesta rakyat dengan api yang bernyala-nyala yang dikenal hingga kini Sijujju Sulo yang digelar sekali tiga tahun. Bahkan Acara Sijujju Sulo ini telah menjadi kalender Nasional. (Teluk Bone : Salama Topada Salama)





1 komentar:
hemh...minggu kemarin sya dari sana om..!
Poskan Komentar
Terima Kasih atas Komentar Anda