Recent The Best
B1 B2

Pengguna Internet di Indonesia 63 Juta Orang

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) mengungkapkan pengguna internet di Indonesia saat ini mencapai 63 juta orang. Dari angka tersebut, 95 persennya menggunakan internet untuk mengakses jejaring sosial.

Direktur Pelayanan Informasi Internasional  Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) , Selamatta Sembiring mengatakan,  situs jejaring sosial yang paling banyak diakses adalah Facebook dan Twitter. Indonesia menempati peringkat 4 pengguna Facebook terbesar setelah USA, Brazil, dan India.

Menurut Sembiring, di era globalisasi, perkembangan telekomunikasi dan informatika (IT) sudah begitu pesat. Teknologi membuat jarak tak lagi jadi masalah dalam berkomunikasi. Internet tentu saja menjadi salah satu medianya.

“Indonesia menempati peringkat 5 pengguna Twitter terbesar di dunia. Posisi Indonesia hanya kalah dari USA, Brazil, Jepang dan Inggris,” ujarnya.

Menurut data dari Webershandwick, perusahaan public relations dan pemberi layanan jasa komunikasi, untuk wilayah Indonesia ada sekitar 65 juta pengguna Facebook aktif. Sebanyak 33 juta pengguna aktif per harinya, 55 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile dalam pengaksesannya per bulan dan sekitar 28 juta pengguna aktif yang memakai perangkat mobile per harinya.

Pengguna Twitter, berdasarkan data PT Bakrie Telecom, memiliki 19,5 juta pengguna di Indonesia dari total 500 juta pengguna global. Twitter menjadi salah satu jejaring sosial paling besar di dunia sehingga mampu meraup keuntungan mencapai USD 145 juta.

Produsen di jejaring sosial adalah orang-orang yang telah memproduksi sesuatu, baik tulisan di Blog, foto di Instagram, maupun mengupload video di Youtube.

Kebanyakan pengguna Twitter di Indonesia adalah konsumen, yaitu yang tidak memiliki Blog atau tidak pernah mengupload video di Youtube namun sering update status di Twitter dan Facebook.

Selain Twitter,  jejaring sosial lain yang dikenal di Indonesia adalah  Path dengan jumlah pengguna 700.000 di Indonesia. Line sebesar 10 juta pengguna, Google+ 3,4 juta pengguna dan Linkedlin 1 juta pengguna.

Sangat  disayangkan apabila perkembangan dan kemajuan teknologi internet ini hanya digunakan untuk sekadar update status atau juga saling menimpali komentar atau foto yang diunggah ke Facebook dan Twitter.

Seharusnya, kemajuan teknologi internet dapat lebih digali dan dimanfaatkan lebih dalam lagi agar nantinya Indonesia tidak hanya menjadi pengekor dari penemuan-penemuan luar dan dapat juga bersaing dengan negara lainnya.
Sumber : http://kominfo.go.id

Batu Permata Recca' dari Bone

 
Songkok  Recca’ atau songkok to Bone muncul dimasa terjadinya perang antara Bone dengan Tator tahun 1683 pada masa pemerintahan Arung Palakka  (1645-1696) Pasukan Bone pada waktu itu memakai Songkok Recca’ sebagai tanda untuk membedakan pasukan prajurit  dari Bone dengan pasukan Tator.

Pada masa  pemerintahan Andi Mappanyukki Raja Bone ke-32 (1931-1946)  Songkok Recca dibuat dengan pinggiran emas (Pamiring Pulaweng) yang menunjukkan strata sipemakainya. Akan tetapi lambat laun hingga sekarang ini siapapun berhak memakainya. Bahkan beberapa kabupaten di Sulawesi memproduksinya sehingga dapat dikatakan, bahwa Songkok Recca yang biasa juga disebut sebagai Songkok To Bone yang merupakan hasil cipta, rasa, dan karsa orang Bone tersebut mendapat apresiasi baik dari masyarakat Sulawesi maupun Indonesia pada umumnya. bahkan mancanegara.

Dalam perkembangannya kata Recca semakin terpatri di Bumi Arung Palakka, karena dijaman edan permata saat ini ternyata muncul pula sejenis batu akik yang disebut  PERMATA RECCA. Jenis permata bermotif Songkok Recca ini bukanlah terbuat dari pelepah daun lontar seperti Songkok Recca/Songkok Pamiring, atau Songkok To Bone, namun terbuat dari batu bongkahan yang mempunyai motif seperti Songkok Recca.

Awalnya batu bongkahan bermotif seperti Songkok Recca tersebut ditemukan  masyarakat di kawasan objek wisata Tanjung Pallette di tepi laut Teluk Bone, Kecamatan Tanete Riattang Timur Kabupaten Bone sekitar tiga tahun silam (2012). Masyarakat di daerah tersebut tidak terlalu memperhatikan hanya dipergunakan sebagai penyangga tiang rumah atau dijadikan sebagai pondasi rumah. Karena batu bongkahan bermotif Songkok Recca tersebut tidak muncul begitu saja namun baru bisa diperoleh setelah batu besar dihancurkan kemudian muncullah serpihan atau bongkahan yang bermotif seperti Songkok Recca.

Setelah batu permata lagi trend seakan tiada hari tanpa batu permata  maka muncul  pula batu permata terunik di dunia yang bermotif seperti Songkok Recca di ajang pameran batu permata yang digelar Pemerintah Kabupaten Bone di Taman Bunga Watampone.  Bahkan sekarang ini bongkahan batu permata bermotif songkok Recca tersebut  tidak hanya bisa didapatkan di Kawasan Tanjung Pallette namun secara tiba-tiba menjalar  dan bisa diperoleh diseluruh wilayah kecamatan di Kabupaten Bone.
Nah, tunggu apalagi ? bagi Anda yang ingin mendapatkan batu permata bermotif Songkok Recca silakan berkunjung ke Bone. Karena di ajang Peringatan Hari Jadi  Bone tahun 2015 ini akan digelar  berbagai kegiatan budaya dan expo produksi asli Bone termasuk Batu Permata Songkok Recca. (Salam Sumange Tealara). Anda Berminat ? Kontak 081 342 081 372
Oleh : Mursalim, S.Pd.M.Si.

Motto SUMANGE' TEALARA


MOTTO  : SUMANGE TEALARA
Oleh : Mursalim

Sebelum menguraikan makna “ SUMANGE TEALARA ” terlebih dahulu kita membaca deskripsi di bawah ini.
APAKAH ITU SEMANGAT ?
Terkadang kita begitu bersemangat untuk merencanakan sesuatu. Baik itu  soal pekerjaan, karir, belajar/ menuntut ilmu, menjalin hubungan, usaha, berkarya maupun dalam mengejar target. Kita tahu bahwa semangat itu ada pada keyakinan dalam diri kita. Kita juga tahu bahwa semangat itu ada pada minat kita terhadap apa yang akan dan kita lakukan.
Namun semua itu barulah sebuah rencana dan bukan berarti semangat yang sesungguhnya. Karena  sejatinya sebuah semangat itu bukan hanya mesti ada diawal kita melakukan sesuatu. Tapi ia perlu dipertahankan, berkesinambungan, dan dimunculkan terus menerus dalam menyelesaikan apa yang kita lakukan.  Sehingga rasa semangat itu benar-benar menjadi energi kita dalam berproses.
Sebuah contoh sederhana, seorang siswa mengatakan bahwa ia bersemangat sekali untuk pergi ke sekolah. Tetapi mungkin di sekolah ia hanya bersemangat di awal-awal hari saja. Setelah beberapa jam kemudian menemukan hal-hal yang sulit,  pelajaran yang rumit,  atau guru yang tak disukainya, siswa tersebut sudah  mulai mengeluh dan kehilangan gairah untuk belajar. Hal ini berarti siswa yang bersangkutan  tidak memiliki semangat yang sesungguhnya.

APAKAH ANDA BERSEMANGAT ?
Jika Anda benar-benar memiliki semangat dalam mengarungi hidup ini maka Anda akan menemukan hal-hal berikut :
  1. Apakah Anda masih bersemangat saat baru saja menemukan kendala ?
  2. Apakah Anda  bersemangat ketika rasa lelah mulai menghampiri ?
  3. Apakah  masih bersemangat saat sebuah masalah datang di hidup Anda ?
  4. Apakah Anda masih bisa bersemangat ketika menemukan jalan buntu di ujung jalan ?
Pernyataan di atas mengartikan apa yang dinamakan dengan semangat yang sesungguhnya. Seperti halnya waktu , bukan berarti semangat itu hanya ada pada pagi hari yang cerah, segar, dan riang gembira. Namun semangat itu juga harus tetap ada di waktu siang yang panas, gerah, dan penuh beban dalam pikiran kita.  Hingga sore pun tiba menjemput malam semangat  itu tetap harus dipertahankan.

MENGAPA PERLU SEMANGAT ?

Semangat merupakan integritas jiwa dan jasmani dalam beraktivitas. Arti semangat adalah bagaimana kita dapat  membuktikan dan mempertahankan keyakinan diri. Tentunya  bukan hanya rencana diawal saja, akan tetapi semangat itu bagian dari seluruh proses.  Dengan demikian semangat itu adalah sebuah kebutuhan yang hakiki dalam menjalani kehidupan.  “ Semangat itu muncul dari sebuah keyakinan dan keyakinan itu merupakan sesuatu yang muncul karena dijalani  bukan karena perkataan semata "

MOTTO DAN SEMBOYAN
MOTTO  adalah kata atau kalimat pendek yang menggambarkan motivasi, semangat untuk mencapai  tujuan suatu organisasi atau daerah. Motto biasanya menggunakan bahasa daerah setempat (lokal). Kalau di Kabupaten Bone tentu menggunakan bahasa Bugis.

SEMBOYAN  atau SLOGAN  adalah susunan kalimat yang dipakai sebagai dasar tuntunan suatu organisasi atau usaha. Semboyan atau slogan mengacu kepada suatu makna tertentu yang memberikan semangat sekaligus ciri khas pada organisasi.
Misalnya :
Budaya Kerja Pemerintah Kabupaten Bone, yaitu :
  1. Bekerja Keras
  2. Bekerja Cerdas
  3. Bekerja Ikhlas
  4. Bekerja Tuntas
Untuk mewujudkan semboyan atau slogan tersebut di atas, maka diperlukan motto sebagai BAHASA KUNCI  yang mampu memberikan semangat, dan kekuatan, serta keyakinan dalam diri untuk mencapai tujuan tersebut.  Dengan membudayakan bekerja  keras, cerdas, iklhlas, dan tuntas merupakan jembatan untuk mencapai visi masyarakat Bone yang sehat, cerda, dan sejahtera .

SEJARAH

Sejak dahulu,  Bone dikenal memiliki  norma dan peradaban yang  sangat tinggi. Sebagai kerajaan yang pernah berjaya di Jazirah Selatan Sulawesi namun sepak terjangnya meliputi nusantara bahkan mencapai benua lain.  Leluhur  Bone selain memiliki kecerdasan spritual tetapi juga memilik kecerdasan emosial dalam menjalani hidup baik dalam praktiknya  disegi sejarah, Sosial budaya, ekonomi maupun politik. Tak heran dimasa sekarang ini anak cucu dan generasi leluhur Bone banyak yang berkiprah dibidang-bidang tersebut.
Belajar dan mengambil hikmah dari sejarah kerajaan Bone pada masa lalu minimal terdapat tiga hal yang bersifat mendasar untuk diaktualisasikan dan dihidupkan kembali karena memiliki persesuaian dengan kebutuhan masyarakat Bone dalam upaya menata kehidupan ke arah yang lebih baik. Ketiga hal yang dimaksud adalah :
Pertama, pelajaran dan hikmah dalam bidang politik dan tata pemerintahan. Dalam hubungannya dengan bidang ini, sistem kerajaan Bone pada masa lalu sangat menjunjung tinggi kedaulatan rakyat atau dalam terminologi politik modern dikenal dengan istilah demokrasi. Ini dibuktikan dengan penerapan representasi kepentingan rakyat melalui lembaga perwakilan mereka di dalam dewan adat yang disebut "Ade Pitue", yaitu tujuh orang pejabat adat yang bertindak sebagai penasihat raja. Segala sesuatu yang terjadi dalam kerajaan dimusyawarahkan oleh Ade Pitue dan hasil keputusan musyawarah disampaikan kepada raja untuk dilaksanakan. Selain itu di dalam penyelanggaraan pemerintahan sangat mengedepankan asas kemanusiaan dan musyawarah. Prinsip ini berasal dari pesan Kajaolaliddong seorang cerdik cendikia Bone yang hidup pada tahun 1507-1586 masa pemerintahan Raja Bone ke-7 Latenri Rawe Bongkangnge. Lamellong yang bergelar Kajao lalliddong berpesan kepada Raja bahwa ada empat faktor yang membesarkan kerajaan yaitu:
  1. Mammulanna : Seuwani, Temmatinroi matanna Arung Mangkau'E mitai munrinna gau'e (Mata Raja tak terpejam memikirkan akibat segala perbuatan).
  2. Maduanna: Maccapi Arung Mangkau'E duppai ada' (Raja harus pintar menjawab kata-kata).
  3. Matellunna : Maccapi Arung MangkauE mpinru ada' (Raja harus pintar membuat kata-kata atau jawaban).
  4. Maeppa'na : Tettakalupai surona mpawa ada tongeng (Duta tidak lupa menyampaikan kata-kata yang benar).
Pesan Kajaolaliddong ini antara lain dapat diinterpretasikan ke dalam pemaknaan yang mendalam bagi seorang raja betapa pentingnya perasaan, pikiran dan kehendak rakyat dipahami dan disikapi.

Kedua, yang menjadi pelajaran dan hikmah dari sejarah Bone terletak pada pandangan yang meletakkan kerjasama dengan daerah lain, dan pendekatan diplomasi sebagai bagian penting dari usaha membangun negeri agar menjadi lebih baik. Urgensi terhadap pandangan seperti itu tampak jelas ketika kita menelusuri puncak-puncak kejayaan Bone dimasa lalu. Dan sebagai bentuk monumental dari pandangan ini di kenal dalam sejarah akan perjanjian dan ikrar bersama kerajaan Bone, Wajo, dan Soppeng yang melahirkan TELLUMPOCCOE atau dengan sebutan lain "LAMUMPATUE RI TIMURUNG" yang dimaksudkan sebagai upaya mempererat tali persaudaraan ketiga kerajaan untuk memperkuat posisi kerajaan dalam menghadapi tantangan dari luar.

Ketiga, warisan budaya kaya dengan pesan. Pesan kemanusiaan yang mencerminkan kecerdasan manusia Bone pada masa lalu. Banyak hikmah yang bisa dipetik dalam menghadapi kehidupan, dalam menjawab tantangan pembangunan dan dalam menghadapi perubahan-perubahan yang semakin cepat. Namun yang terpenting adalah bahwa semangat religiusitas dengan prinsip sumange tealara orang Bone dapat menjawab perkembangan zaman dengan segala bentuk perubahan dan dinamikanya.

SUMANGE’

Kata Sumange' dalam bahasa Bugis merupakan ungkapan yang menggambarkan di mana  terjadi interaksi antara jiwa dan raga pada situasi tertentu sehingga  menimbulkan efek perasaan senang, bahagia, dan bersemangat. Sering kita dengar ungkapan Bugis “ Kuru,  Sumange’mu  Ana’ “ hal ini mengandung makna seorang ibu atau ayah memberi ucapan selamat kepada anak yang baru saja menyelesaikan pekerjaan dengan baik.  Demikian pula apabila seorang anak yang mengalami sakit parah atau baru saja sembuh dari penyakitnya “ Kuru, Sunge’mu Ana’ Malampe Sunge’mu Ana’ “ hal ini merupakan ungkapan orang tua kepada anak yang sedang menderita sakit semoga cepat sembuh dan panjang.  Kata SUNGE’  dalam bahasa Bugis melambangkan Ruh atau Jiwa  sedangkan kata SUMANGE  dapat diartikan sebagai penyatuan antara jiwa dan raga.

TEALARA
Tealara terdiri atas dua kata yakni Tea dan Lara’ . Dalam bahasa Bugis Tea artinya tak akan (Takkan) sedang lara’  bermakna terpisah, keluar dari kesatuan.  Jika kedua kata tersebut disatukan menjadi TEALARA artinya takkan terpisahkan sehingga bermakna kukuh dan kuat.

SUMANGE’   TEALARA’
SUMANGE merupakan pengintegrasian antara jiwa dan raga. Sedang kata TEALARA berarti tidak terpisah, tidak bercerai-berai, yang menggambarkan kebersamaan, kekukuhan dan keyakinan diri.  Karena itu, SUMANGE TEALARA merupakan pengintegrasian jiwaraga untuk mewujudkan keteguhan dan keyakinan diri yang berawal dari niat yang tergambar dalam prilaku dan perbuatan untuk  bersama-sama mengahadapi sebuah pekerjaan atau tantangan kehidupan.

Diantara sekian banyak petuah bugis Bone  yang sering kita dengar seperti, Siatting Lima, Sitonra Ola, Tessibelleang, Tessipano, Getteng, Lempu, Ada Tongeng, Tellabu Essoe Ritengnga Bitarae, Taro ada Taro Gau. Kesemuanya terangkum dalam SUMANGE TEALARA.  Penulis berpendapat bahwa dari sekian banyak petuah leluhur Bugis Bone yang ada perlu adanya satu bahasa YASSIBONEI ( Seluruh masyarakat Bone ) untuk dijadikan sebagai sebuah bahasa semangat sekaligus menjadi motto Kabupaten Bone.

Nilai-nilai yang terkandung dalam Motto SUMANGE TEALARA :
  1. SUMANGE TEALARA berawal dari niat
  2. SUMANGE TEALARA memberikan kekuatan dan keyakinan diri
  3. SUMANGE TEALARA lahir dari kebersamaan
  4. SUMNAGE TEALARA adalah ruh kehidupan yang menjiwai segala tindak tanduk kita.
  5. SUMANGE TEALARA  dapat menciptakan jalan.
  6. SUMANGE TEALARA  dapat mengusir ketakutan
  7. SUMANGE TEALARA  dapat mengobati rasa lelah
  8. SUMANGE TEALARA dapat mematahkan kesulitan.
  9. SUMANGE TEALARA  dapat mengantarkan kita pada tujuan
  10. SUMANGE TEALARA dapat menunjukkan jati diri
  11. SUMANGE TEALARA  dapat menerangi kegelapan kita
  12. SUMANGE TEALARA dapat mengangkat  harkat dan martabat
Demikian sekelumit buah pikiran penulis semoga ada mamfaatnya dan SUMANGE'  TEALARA dapat menggugah kita semua dalam upaya  mewujudkan masyarakat Bone yang sehat, cerdas, dan sejahtera. Terima Kasih

Oleh : MURSALIM, S.Pd.,M.Si.

Struktur Pemerintahan Kerajaan Bone


STRUKTUR PEMERINTAHAN KERAJAAN BONE

A. ARUNG PONE (RAJA BONE) DIGELAR MANGKAU
Sebagai kepala pemerintahan di Kerajaan Bone dengan dibantu oleh 4 (empat) Kabinet antara lain :
I. PETTA POGGAWAE (PANGLIMA PERANG)
  • Bertugas di bidang Pertahanan Kerajaan Bone  dengan Membawahi 3 (tiga)  perangkat masing-masing:
  1. Anre Guru Anakkarung,  bertugas mengkoordinir para anaK bangsawan berjumlah 40 (empat puluh)  orang bertugas sebagai pasukan elit kerajaan).
  2. Pangulu Joa,  bertugas mengkordinir pasukan dari rakyat tana Bone yang disebut Passiuno artinya Pasukan Berani Mati yakni pasukan siap tempur di medan perang setiap saat rela mengorbankan jiwa raganya demi tegaknya kerajaan Bone dari gangguan kerajaan lain.
  3. Dulung  (Panglima Daerah), bertugas mengkoordinir daerah kerajaan bawahan, di kerajaan Bone terdapat  2 (dua)  Dulung (Panglima Daerah yaitu :
  1. Dulungna Ajangale dari kawasan Bone Utara
  2. Dulungna Awatangka dari kawasan Bone Selatan.
II. JENNANG (PENGAWAS)
  • Bertugas  mengawasi para petugas yang menangani di bidang pengawasan baik dalam lingkungan istana, maupun dengan daerah kerajaan bawahan).
III. KADHI  (ULMA)
  • Bertugas sebagai penghulu syara’ dalam bidang agama Islam. Perangkatnya terdiri dari imam, khatib, bilal.
IV. BISSU (WARIA)
  • Bertugas merawat benda-benda kerajaan Bone di samping  itu sebagai tabib  mengadakan pengobatan tradisional, juga bertugas dalam kepercayaan kepada Dewata Seuwae, setelah masuknya islam di kerajaan Bone,  kedudukan bissu di non aktifkan. Namun untuk masa sekarang kembali  dilibatkan pada acara budaya seperti perayaan hari jadi Bone.

B. ADE  PITUE  (ADAT TUJUH) KERAJAAN BONE
Ade Pitu merupakan lembaga pembantu utama pemerintahan Kerajaan Bone yang bertugas mengawasi dan membantu pemerintahan kerajaan Bone yang terdiri dari 7 (tujuh) orang yaitu :
1. ARUNG UJUNG
  • Bertugas Mengepalai Urusan Penerangan Kerajaan Bone
2. ARUNG PONCENG
  • Bertugas Mengepalai Urusan Kepolisian/Kejaksaan dan Pemerintahan
3. ARUNG TA
  • Bertugas Bertugas Mengepalai Urusan Pendidikan dan Urusan Perkara Sipil
4. ARUNG TIBOJONG
  • Bertugas Mengepalai Urusan Perkara / Pengadilan Landschap/ Hadat Besar dan Mengawasi Urusan Perkara Pengadilan Distrik
5. ARUNG TANETE  RIATTANG
  • Bertugas Mengepalai Memegang Kas Kerajaan, Mengatur Pajak dan Mengawasi Keuangan
6. ARUNG TANETE  RIAWANG
  • Bertugas Mengepalai Pekerjaan Negeri (Landsahap Werken – Lw) Pajak Jalan  Pengawas Opzichter.
7. ARUNG MACEGE
  • Bertugas Mengepalai Pemerintahan Umum Dan Perekonomian.

Sejarah Perjalanan SAORAJA atau BOLASOBA di Bone

 
SAORAJA atau BOLASOBA, dalam bahasa Indonesia yang berarti Rumah Besar  atau Rumah Persahabatan merupakan salah satu peninggalan sejarah kerajaan Bone masa lalu.  Bangunan rumah panggung yang sarat dengan nilai-nilai sejarah ini masih berdiri kukuh  terletak Jalan Latenritata, Watampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan.

Sepintas, tak ada yang istimewa dengan bangunan yang berdiri di atas lahan seluas hampir setengah  hektar tersebut. Dari luar, tampak hanya sekadar bangunan rumah panggung tradisional ala masyarakat bugis Bone. Hanya ada papan nama di depan bangunan serta gapura yang mempertegas identitas bangunan tersebut.

Memasuki bagian dalam bangunan, tak ada benda-benda monumental yang bisa menjelaskan secara hirarki dan historis bangunan tersebut. Hanya beberapa perlengkapan properti kesenian, seperti kostum tari dan gong. Ya, saban hari bangunan Saoraja atau Bolasoba ini menjadi tempat pelatihan sanggar-sanggar seni yang ada di kota  Bumi Arung Palakka. Selain itu, di bagian lain ruangan terdapat Langkana atau singgasana raja, bangkai meriam tua, gambar La Tenritata Arung Palakka Raja Bone ke-15, silsilah dan susunan raja-raja Bone, serta beberapa benda-benda tertentu seperti guci dan dupa yang sengaja disimpan pengunjung sebagai bentuk melepas nazar atau dalam bahasa Bugis mappaleppe' tinja'.

Saoraja dibangun pada masa pemerintahan Raja Bone ke-30,  La Pawawoi  Karaeng Sigeri MatinroE ri Bandung (1895-1905) . Awalnya, diperuntukkan sebagai kediaman raja pada waktu itu sehingga disebut Saoraja. Selanjutnya, ditempati oleh putra La Pawawoi Karaeng Sigeri yang bernama  Baso Pagilingi Abdul Hamid yang kemudian diangkat menjadi Petta Ponggawae (Panglima Perang) Kerajaan Bone oleh raja dengan persetujuan Ade' Pitue.

Saat ditempati oleh Petta Ponggawae, maka bubungan rumah atau timpa’ laja diubah menjadi empat singkap atau susun setelah sebelumnya lima singkap. Sebab, dalam tata kehidupan masyarakat Bugis, lima singkap timpa’ laja dalam bangunan rumah diperuntukkan bagi Rumah Raja dan  timpa'  laja dengan empat singkap untuk putra raja.

Seiring dengan ekspansi Belanda yang bermaksud menguasai Nusantara, termasuk Kerajaan Bone pada masa itu, maka Saoraja Petta Ponggawae ini pun jatuh ke tangan Belanda dan dijadikan sebagai markas tentara. Tahun 1912, difungsikan sebagai penginapan dan untuk menjamu tamu Belanda. Dari sinilah awal penamaan Bolasoba  yang berarti rumah persahabatan atau dalam bahasa Bugis Sao Madduppa to Pole.

Selanjutnya, Bola Soba’ juga pernah difungsikan sebagai istana sementara Raja Bone pada masa pemerintahan Raja Bone ke-31, La Mappanyukki Sultan Ibrahim MatinroE ri Gowa, 1931-1946,, menjadi markas Kesatuan Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS), menjadi asrama TNI pada tahun 1957 hingga kemudian dijadikan sebagai bangunan peninggalan purbakala sampai saat ini.

Saoraja telah mengalami tiga kali pemindahan lokasi. Lokasi aslinya, terletak di Jalan Petta Ponggawae Watampone yang saat ini menjadi lokasi rumah jabatan bupati Bone di Jalan Petta Ponggawae. Selanjutnya, dipindahkan ke Jalan Veteran Watampone dan terakhir di Jalan Latenritatta Watampone sejak tahun 1978, yang peresmiannya dilakukan pada 14 April 1982  oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (1978-1983) saat itu,  Prof Dr. Daoed Joesoef.

Sebagai bangunan peninggalan sejarah, Saoraja didesain untuk mendekati bangunan aslinya. Namun demikian, beberapa bagian juga mengalami perubahan, baik perbedaan bahan maupun ukurannya. Secara umum, Saoraja yang memiliki panjang 39,45 meter ini terdiri dari empat bagian utama, yakni lego-lego (teras) sepanjang 5,60 meter, rumah induk (21 meter), lari-larian/selasar penghubung rumah induk dengan bagian belakang (8,55 meter) serta bagian belakang yang diperuntukkan sebagai ruang dapur (4,30 meter). Selanjutnya, pada bagian dinding dan tamping, dilengkapi dengan ukiran pola daun dan kembang sebagai ciri khas kesenian Islam dengan perpaduan model swastika yaitu sebuah simbol religius yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya yang kompleks.

Sejauh ini,  Saoraja Bone yang juga menjadi objek wisata sejarah ini banyak dikunjungi oleh wisatawan, tak hanya dari dalam negeri, bahkan wisatawan macanegara . Beberapa di antaranya merupakan warga Bone yang merantau dan mengunjungi Saoraja / Bola Soba untuk melepas nazar dan meninggalkan benda-benda tertentu sebagai bagian dari pelepasan nazar. Bahkan, beberapa di antara mereka kerap mengaku masih keturunan Raja Bone ke-31 La Mappanyukki.

Download Bone Dalam Angka Tahun 2014

 https://www.dropbox.com/s/icqxtn1kjzd82xi/DATA%20RPJMD%20BONE.rar?dl=0
BONE DALAM ANGKA 2014  Download
 
Copyright © 2007. Teluk Bone - Indonesia