News Update :

Selamat Datang di Teluk Bone

Lagu Bugis

Written By gitalara on 28 Mei, 2012 | 28.5.12

Musik merupakan perpaduan antara syair lagu dengan alat bunyi-bunyian sehingga menghasilkan gaung indah ke telinga kita. Sedang syair adalah untaian kata menjadi kalimat yang memiliki makna tersendiri. Sekarang ini bermunculan bak jamur lagu-lagu baru baik dari dalam negeri maupun dari mancanegara. Begitu pesatnya perkembangan musik dari luar sehingga terdapat fenomena di kalangan generasi kita terkesan lupa jatidiri yang disebabkan pengaruh luar yang tak terkendali. Hal ini wajar-wajar saja akan tetapi kita mengaku sebagai bangsa yang memiliki budaya yang beranaeka ragam ibarat ratnamutumanikam sangat ironis jadinya. Apakah kita selalu menunggu dan disuapi oleh budaya luar padahal belum tentu cocok dengan hati nurani bangsa kita ?
Hm ....dari pada mengkaji panjang x lebar akhirnya luas jadinya. Mari kita menyimak yang di bawah ini :

Lagu : Seddi Pariyama

Ciptaan : Gitalara
Am : do
Bone  27 Mei 2012

Pura Makkoni ada
suro pada suro
Ada Toddopulie
natea malara
Moni mallimpo-limpo 
lao mabelae
Tempedding rilesangi
Ade pura onro

Ref  Seddi pariyana, seppulo taunna
        bunga-bunga ripalla
        Ri wiring passiringnge
        Natea papole buana

        Mattaung mattimo, usappa unganna
        Kusawungngi sunge'ku
        Muare papole sumange
        Capu-campa aroku
        kuru' sumange'ku

Menengngi ri munrinna
Tosiraga-raga
Mattulu tellu pale
Ati uddanie

Puluhan Ribu Manuskrip Kuno Indonesia Ada di Leiden

Written By gitalara on 27 Mei, 2012 | 27.5.12

Liputan6.com, Jakarta: Sedikitnya 26.000 manuskrip kuno Indonesia saat ini berada di Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda.
"Jumlah manuskrip kuno Indonesia di luar negeri memang sangat banyak, angka 26.000 itu belum ditambah dokumen bersejarah lain yang ada di Inggris, Malaysia, dan negara-negara lain," kata Kepala Perpustakaan Nasional RI Sri Sulasih, Senin (14/5).
Jumlah tersebut tergolong sangat banyak. Perpustakaan Nasional RI kini hanya memiliki 10.300 manuskrip kuno. Dengan kata lain, dokumen penting yang kini berada di Leiden 2,5 kali lipat lebih banyak dibanding yang berada di negara asalnya.
"Kami kesulitan untuk mengembalikan manuskrip-manuskrip di luar negeri ke Indonesia karena perpustakaan di luar negeri memperoleh kertas bersejarah tersebut dengan membeli, artinya mereka sudah berinvestasi. Dibutuhkan dana yang sangat besar untuk membeli kembali naskah asli tersebut," katanya.
Menurut Sri, perpustakaan di Leiden hanya memberi Indonesia satu naskah tiruan sedangkan naskah asli tetap di simpan di perpustakaan Belanda.
Kini yang dilakukan Perpustakaan Nasional RI antara lain adalah terus menggali dan mengumpulkan berbagai dokumen penting bersejarah dari daerah.
"Kami meminta perpustakaan daerah untuk mengumpulkan catatan-catatan bersejarah, bahkan jika perlu membelinya," ujarnya. (ANT/Vin)

(Sumber : liputan6.com)

Bendera Pusaka Kerajaan Bone

Bendera Persekutuan VOC dengan Bone
Kerajaan  Bone didirikan  Tahun 1330, ketika serikat antara tujuh negara kuno  yakni Ujung, Tibojong, Ta, Tanete Riattang, Tanete Riawang, Ponceng, dan Macege dilakukan  oleh Mata Selompu.  Beliau  diundang oleh dewan penasihat dari tujuh penguasa menjadi penguasa tertinggi pertama dari federasi  ketujuh  kerajaan  yang  menggabungkan diri menjadi kerajaan Bone.  Pada tahun 1582  Bone, Soppeng,  dan  Wajo, mendirikan aliansi TallumpoccoE  yang mendominasi wilayah tersebut selama beberapa dekade. Islam menjadi agama negara pada  1608 ketika Arumpone dikonversi dan mengadopsi raja-raja  menjadi Sultan.  Seperti Arung Palakka yang digelar Sultan Saaduddin.
Selama abad  ke babak  berikutnya Negara Bone  ditaklukkan oleh Gowa beberapa kali yakni  pada tahun 1611, 1640  dan  akhirnya  di 1644. Pada kesempatan terakhir itu Bone kehilangan kemerdekaannya dan menjadi jajahan  kerajaan Gowa - Makassar.  Kerajaan Bone butuh waktu dua puluh tahun merebut  kembali kemerdekaannya di bawah Pimpinan 'Arung Palakka'  tahun 1660 . Ia mengembangkan Bugis menjadi kekuatan maritim besar yang bersekutu dengan Belanda (Persekutuan  dalam  arti Strategi Perang Arung Palakka)  dan mendominasi pulau-pulau selama hampir satu abad.
Setelah penaklukan Gowa-Makasar oleh Belanda pada 1669 dengan bantuan Arung Palakka, maka Belanda  dengan terpaksa  memberinya kerajaan  Bone  sebagai  sebagai balasannya . Ini diberikan  oleh GG Joan Maetsuyker pada  tanggal 28 Februari 1670. Kemudian  kerajaan Bone  abad berikutnya menjadi kekuatan cukup besar di pulau Celebes  dan  memperluas lingkup pengaruhnya atas kerajaan-kerajaan tetangga
Setelah pendudukan Inggris di awal abad ke- 19,  Belanda menguatkan diri  dengan  ekspedisi militer pada tahun 1824 . Kemudian dilanjutkan ekspedisi militernya  pada tahun 1825, 1859,  dan 1860.   Ketika Belanda mengirim kekuatan militernya  untuk menyerang Bone di tahun 1905, Arumpone lari ke hutan dengan pembesar dan prajurit, dan  bergerilya .  Namun kemudian ia  berhasil ditangkap kemudian dibuang ke Jawa. Sebuah  Dewan bangsawan diberikan Bone  setelah 1905, tapi pemerintahan sendiri dipulihkan pada 1931.

Lambang Negara
 
Tentang lambang negara bagian Bone  memang relative  banyak. Dijelaskan  bahwa setelah ekspedisi militer Belanda ke Bone di pertengahan abad ke-19. Sebuah laporan dari ekspedisi ini ditulis oleh Perelaer, MTH: De Bonische expeditiën: Krijgsgebeurtenissen op Celebes tahun 1859 en 1860. Leiden 1872.  Perbendaharaan dijelaskan dalam artikel "Inventaris van de Thans aanwezige Rijksornamenten van Boni" (Inventarisasi harta  nasional  Bone ), juga dikutip oleh Perelaer. Bahwa Harta karun terdiri dari pedang dan Keris, bendera dan beberapa potongan menarik lainnya dianggap sebagai pusaka atau benda melegitimasi otoritas penguasa. 

Standar Nasional 

Kasitangnga : Standar Nasional Bone, 1755.
Bagian paling mencolok dari harta karun itu adalah  merupakan bendera Standar Nasional yang merupakan lambang mencakup semua Negara  bagian Bone. Tahun 1775
Standar Nasional , bernama  Kasitanganga  atau  Lima-si-attangé   telah disampaikan kepada Raja Bone pada tanggal 16 Agustus 1755, yang mengatakan kepada Raja Abdul Razzaq Jalal (1749 - '75). Ini menunjukkan:dan menjelaskan, bahwa :

1. Sebuah matahari yang cerah, bulan sabit dan bintang tiga.
2. Para nol dari Kamar Middelburg Perserikatan East India Company (VOC) dan segel Raja Abdul Razzaq Jalal.
3. Sebuah kapal berlayar, menjadi lambang VOC.
4. Sebuah Prestasi:
Emblem: Sebuah lapisan baja dan helm Atau, dan piala yang terdiri dari biru dan bendera merah per chevron, dan beberapa senjata: tombak senapan, pedang, terompet, drum dan sejenisnya   serta dua meriam mengarah keluar, dan barang-barang mereka, dan perisai bundar, semua di atas tanah berumput.
Mahkota : Mahkota Kerajaan Bone Ini menunjukkan kejayaan dan kemakmuran  Bone.
5. Dua tangan menggenggam, mengeluarkan dari dua awan.
6. Motto :
a.  ZOLANG DE EN ZON Maan SCHEYNE:   Zal DE E: COMP E MET Boni VAST VEREENIGT BLEYVE yang artinya :  Salagi ADA Matahari Dan Boelan bÄ•rtjahaja di Langit dÄ•mikian-Lagi Kompeni Dan Bone  Akan langgar bÄ•rkÄ•kalan jang tiada bÄ•rtjÄ•re dalam naskah arab (Selama matahari dan bulan akan bersinar, VOC dan Bone akan tetap kuat bersatu).
b. DOCA ONSE KRAGTEN BLEYVEN DE HANDEN VAST dan: Dari Kami ampoenja kakoewasja-an  Akan Tangan Suami tienggal berpÄ•gangan  dalam naskah arab (Dengan Pasukan kami Tangan kami tetap Mantap)

SAMPARAJAE

Samparaja adalah  berwarna cahaya biru sutra di tengahnya terdapat  jangkar dalam bordir dihiasi. Memiliki bola dalam bentuk bunga berdaun empat, dua dari daun emas, dan dua lainnya dari besi. Kedua daun ini disebut Brani yang berarti "berani" dan berubah menjadi musuh dalam pertempuran. Bola yang dihiasi dengan rambut seorang pangeran Seram yang dibunuh.
Jangkar  mengacu pada kekuatan maritim atau angkatan laut dari kerajaan Bone 
     BENDERA NEGARA BAGIAN BONE
Cellae ri-Atau dan Cellae ri-Abeo

Bendera  orang-orang Bone terbagi dalam tiga kelompok yaitu :
  • Kelompok pertama, yang dikumpulkan di sekitar Waromporong terdiri dari orang-orang dari Madjang, Matowanging, Bukaka, Kawarrang, dan Maloi. Waromporong dilakukan oleh Matuwa dari Majang.
  • Kelompok kedua, yang dikumpulkan di sekitar Tjallae-ri-atau, terdiri dari orang-orang dari Patjieng, Tanete, Lemo Lemo, Masalle, Matjege, dan Belawa. Tjallae-ri-atau ini dilakukan oleh Kadjao Tjiu.
  • Kelompok ketiga, yang dikumpulkan di sekitar Tjallae-ri-abeo, terdiri dari orang-orang dari Udjung, Ponljeng, Ta, Katumping, Panda Tjanga en Madello. Tjallae-ri-abeo ini dilakukan oleh Kadjao Arasang.
Setelah Waromporong hilang ia digantikan oleh Samparaja yang merupakan lambang kerajaan
 
Tjallae-ri-Atau dan atau Tjellae-ri-Abeo berwarna merah, dengan yang terbuat dari beludru hijau. Didihiasi dengan rambut orang-orang dari Seram tewas dalam perang.
Kedua bendera tersebut di atas, dibuat pada pemerintahan dari Lasaliwu Karampeluwa, raja Bone ke-3. Pada saat digunakan harus ditampilkan di kedua sisi Waromporong, bendera Manurung-ri Matajang (1350-1366). Kemudian mereka harus ditampilkan di kedua sisi Samparadjae tersebut.
   LAMANGOTONG 
Panji Lamangotong

The Royal / Panji Lamangotong adalah kain putih dengan border dihias dan breadths hitam sempit di ujung tiang-dan sisi atas. Tersebut terhubung dengan tombak. Namanya berarti "ular-ular yang menyerang" (musuh).
Sebuah legenda mengatakan:
"Arung Palakka sedang berperang dengan Wajo dan telah kehilangan Samparaja ketika ia memiliki ide untuk menampilkan saputangan, berteriak bahwa Samparaja bukan hanya panji Bone. Melihat hal ini orang-orang dari Bone melanjutkan serangan mereka dengan semangat sehingga mereka merebut kembali panji mereka. "
 STEMPEL KERAJAAN BONE
Stempel Kerajaan Bone

Tiga perak segel tergantung dari rantai perak kecil. yang di sebelah kiri menyandang nama To-ri-Sompae Arung Palakka. Di satu di tengah adalah suatu prestasi yang mungkin merupakan prestasi pertama pemerintah kerajaan. Ini menunjukkan seorang pria tiga perempat berdiri menjaga ular di tangannya. Pada perisai, didukung oleh dua singa atau harimau, adalah mahkota tujuh daun yang merupakan mahkota baronet.
Pada ketiga adalah sosok yang mungkin delapan berdaun teratai-bunga, dibebankan dengan sepasang kompas dan sebuah lingkaran.   
LAMBANG GARUDA 
Bendera Kerajaan Bone

Banner Garuda merupakan kain sutra putih diisi dengan Garuda dengan dua ular di tangannya dan berdiri di ular lain. Di sudut empat harimau.
Bendera ini adalah mitra atau pasangan  dari Kasitanganga.
Pada waktu Kasitanganga sebagai Standar Nasional, maka Banner Garuda adalah sebagai Bendera Negara karena menampilkan pesawat Garuda yaitu kendaraan penguasa dan simbol negara dalam simbolisme politik Buddha.
Emblem: Garuda menginjak ular yang tepat.
Pendukung: (Empat) harimau.)
Harimau mungkin lambang prajurit peringkat tertinggi Bone, sehingga membuat pencapaian: ". Pemerintah dengan rahmat komandan Agung"

PERISAI / TAMENG
Perisai  / Tameng


  Perisai perak dengan medali emas di tengah, biasanya ditampilkan dengan keris kecil. Perisai ini digunakan prajurit kerajaan Bone  pada waktu  sedang perang 

 SumberPerpustakaan Universitas Leiden, Belanda.

Coppo' Walasuji

Written By gitalara on 26 Mei, 2012 | 26.5.12

Foto ; Coppo' Walasuji di Gapura Rujab Ketua DPRD Bone
Istilah Walasuji tidak asing lagi bagi Bangsa Bugis. Wala suji berasal dari kata WALA yang artinya pemisah/pagar/penjaga dan SUJI  yang berarti PUTRI /ANAK DARA/WELAMPELANG. Wala Suji adalah sejenis pagar bambu dalam acara ritual yang berbentuk belah ketupat. Sulapa' Eppa (empat sisi) adalah bentuk mistis kepercayaan bangsa Bugis  klasik yang menyimbolkan susunan semesta, yakni (1) api, (2) angin, (3) air, dan (4) tanah. Kemudian arah mata angin, yakni Timur, Barat, Utara, dan Selatan. Selanjutnya unsur pembentuk manusia  itu sendiri, yakni api, air, angin, dan tanah.
Jika Anda pernah mengunjungi acara adat atau perkawinan Kerabat Bangsa Bugis, tentu Anda akan melihat suatu Baruga  yang pintu masuknya beratap model Walasuji (di atas pintu gerbang) yang terletak  di depan pintu rumah /baruga mempelai atau yang melaksanakan hajatan. Wala Suji ini terbuat dari anyaman bambu. Mengapa Wala Suji harus menggunakan pohon bambu, karena pohon bambu dipercaya memiliki makna filosofi .
Pohon bambu adalah sejenis tumbuhan yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Ada satu sisi dari pohon bambu dapat dijadikan bahan pembelajaran bermakna, yakni pada saat proses pertumbuhannya. Pohon bambu ketika awal pertumbuhannya atau sebelum memunculkan tunas dan daunnya terlebih dahulu menyempurnakan struktur akarnya. Akar yang menunjang ke dasar bumi membuat bambu menjadi sebatang pohon yang sangat kuat, lentur, dan tidak patah sekalipun ditiup angin kencang.
Metafora tersebut mengajarkan kepada manusia agar tumbuh, berkembang dan mencapai kesempurnaan bergerak dari dalam ke luar, bukan sebaliknya. Lebih jauh memahami filosofi pohon bambu tersebut, bahwa menjadi apa sesungguhnya kita ini sangat tergantung pada pemahaman, penghayatan, dan pengamalan kita tentang “Keimanan kepada Allah SWT” yang terdapat dalam hati (qalbu) kita masing-masing.
Wala Suji ini merupakan cikal bakal tulisan lontara. Karena pada masa-masa itu belum ada yang namanya pulpen, pensil dan sejenis alat tulis lainnya. Huruf lontara ini pada awalnya dipakai untuk menulis tata aturan pemerintahan dan kemasyarakatan. Naskah ditulis pada daun lontar menggunakan lidi atau kalam yang terbuat dari ijuk kasar.
Sebenarnya konsep segi empat pada Wala Suji ini, berpangkal pada kebudayaan bangsa Bugis yang memandang alam raya sebagai sulapa' eppa wala suji (segi empat belah ketupat). Menurut almarhum Prof DR Mattulada, budayawan Sulawesi Selatan yang juga guru besar Universitas Hasanuddin, Makassar, konsep tersebut ditempatkan secara horizontal dengan dunia tengah. Dengan pandangan ini, masyarakat Bugis  memandang dunia sebagai sebuah kesempurnaan.
Kesempurnaan yang dimaksud meliputi empat persegi penjuru mata angin, yaitu timur, barat, utara, dan selatan. Secara makro, alam semesta adalah satu kesatuan yang tertuang dalam sebuah simbol aksara Bugis,, yaitu ‘sa’ yang berarti seuwwa, artinya tunggal atau esa. Begitu pula secara mikro, manusia adalah sebuah kesatuan yang diwujudkan dalam sulapa' eppa Berawal dari hati ke mulut manusia segala sesuatu dinyatakan, Ininnawa  ke bunyi, bunyi ke kata, kata ke perbuatan, dan perbuatan mewujudkan jati diri manusia. Dengan demikian, Wala Suji dalam dunia ini, dipakai sebagai acuan untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimiliki seseorang. Kesempurnaan yang dimaksud itu adalah Awaraniang  (keberanian), akkarungeng (kebangsawanan), asugireng (kekayaan), dan akkessingeng (ketampanan/kecantikan).
Penggunaan Coppo' Walasuji sekarang ini bukan hanya pada acara hajatan akan tetapi sering juga digunakan pada acara lain baik formal maupun informal seperti kegiatan Tudang Sipulung yang dilaksanakan di tanah lapang.
(Teluk Bone)

Bangsa Bugis di Afrika Selatan

Foto Bagian Luar Makam Syekh Yusuf
Bangsa Bugis di Afrika adalah keturunan Syeh Yusuf, ulama dan pejuang yang berasal dari Sulawesi Selatan yang dibuang pemerintah Belanda ke negara itu pada abad ke-16.

“Syekh Yusuf adalah keturunan Raja Bangsa Bugis yang diasingkan pemerintah Belanda ke Afrika yang kemudian mengajarkan agama Islam sekaligus berjuang membela Afrika dari penindasan penjajah di negara tersebut.
 Lalu, dari hasil perkawinan pengikut Syekh Yusuf inilah berkembang keturunan bangsa Bugis hingga saat ini di Afrika.

Syekh Yusuf

Di puncak bukit Macassar, Cape Town, Afrika Selatan (Afsel), makam Syekh Yusuf yang berkubah warna hijau kerap dikunjungi umat Islam, terutama dari Indonesia. Makam ini jadi titik tolak kisah penyebaran Islam di Afsel hingga sekarang.

Peziarah yang datang memang tidak setiap hari, namun rutin setiap bulan. Mereka umumnya ingin tahu lebih banyak tentang kiprah perjuangan yang dilakukan Syekh Yusuf dalam menyebarkan Islam.
Foto Makam Syekh Yusuf (bagian dalam)

Di komplek makam itu, tak banyak kisah yang bisa diperoleh. Hanya ada satu tonggak monumen yang menjelaskan tentang bagaimana Syekh Yusuf bisa sampai di Cape Town, Afrika Selatan. Namun versi lisan yang lengkap bisa diperoleh dari Adam Philander, imam Masjid Nurul Latief, masjid yang berjarak beberapa meter dari komplek makam Syekh Yusuf.

“Syekh Yusuf dibuang Belanda karena perlawanannya terhadap Belanda sewaktu di Banten. Penyebaran agama yang dilakukannya, tidak lepas dari pemahaman tentang Islam yang diperolehnya dari belajar di banyak tempat.
Pada usia 18 tahun dia meninggalkan Makasar menuju Banten, setelah itu dia ke Aceh, dan seterusnya ke Yaman, dan kemudian ke Madinah dan Mekkah, lalu ke Damaskus, Suriah lalu ke Istanbul, Turki. Setelah 23 tahun belajar seluruh tempat itu, sosok yang dikenal dengan nama lengkap Syekh Yusuf Taj al Khalwaty Al Makassary itu kembali ke Makasar pada tahun 1668 dan pergi ke Banten pada tahun 1671.

Ada catatan yang menyebut dia langsung ke Banten tak singgah ke Makasar. Di Banten, dia menikah dengan salah satu anak Sultan Ageng Tirtayasa. Kemudian anak sultan, yakni Abdul Kahar melakukan perebutan tahta dengan bantuan Belanda. Seterusnya sultan ditangkap dan Yusuf bergerilya di Banten.

Selama masa gerilya itu, dia tetap menyebarkan Islam dan dikenal dengan nama Maulana Yusuf. Namun akhirnya tertangkap. Seterusnya dia beserta pengikutnya dibuang ke Srilanka pada 22 Maret 1684, dalam usia 58 tahun. Di sini dia tetap berdakwah, dan juga menulis beberapa buku.

Belanda kemudian mengasingkannya lagi ke ke tempat yang lebih jauh pada Juli 1693. Dengan menggunakan kapal De Voetboog, Yusuf beserta 49 pengikutnya dibawa ke Zandvliet, yang sekarang bagian dari wilayah Cape Town, Afrika Selatan. Tetapi hanya lima tahun di pengasingan ini, dia wafat pada 23 Mei 1699 dalam usia 73 tahun. Lalu dimakamkan di kawasan yang sekarang disebut Macassar, sekitar 35 kilometer dari pusat kota Cape Town.

Ketika Syekh Yusuf wafat di Cape Town, kabar itu kemudian disampaikan Belanda kepada keluarga Sultan Banten dan Raja Gowa. Kedua kerajaan itu meminta agar jenazahnya dikirimkan dari Afrika Selatan, namun permintaan itu ditolak Belanda. Kemudian pada tahun 1704 Raja Gowa Abdul Jalil kembali meminta Belanda mengirimkan kerangka jenazah ke Gowa, dan kali ini disetujui. Ada catatan yang menyebutkan kerangka jenazah tiba Gowa pada 5 April 1705 dan turut serta juga dalam perjalanan itu keluarganya selama masa pembuangan.

Ihwal jenazah yang dikirimkan ke Gowa itu, masih juga diragukan. Keturunan Indonesia yang berada di Cape Town, tetap yakin jenazahnya masih ada di Cape Town. Komplek makamnya terus dibina, dan tiga Presiden Indonesia juga datang ke sini, yakni Presiden Soeharto, Presiden Megawati Soekarnoputri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Ada beberapa tempat yang diyakini sebagai makam Syekh Yusuf, tapi sesungguhnya makam beliau tetap ada di Afrika.

Terkait dengan makam yang ada di Gowa, bisa jadi Belanda memang mengirimkan jenazahnya ke Sulawesi Selatan. Namun bisa jadi juga yang dikirimkan hanyalah bagian kuku dan rambutnya yang dalam bahasa Bugis disebut PAMANGKEKAKAN.

Semua spekulasi itu masih ada sampai sekarang, termasuk spekulasi yang menyebut keberadaan makam Syekh Yusuf di Srilanka dan Banten. Yang pasti di Macassar, Afrika Selatan, masih ada makamnya yang bisa menjadi jalan untuk terus mempelajari jejak perjuangan Syekh Yusuf yang telah diangkat menjadi pahlwan nasional Indonesia. Semoga jiwa patriotisme beliau dapat menjadi panutan generasi bangsa Indonsia sekarang ini.

Ininnawa Sabbara'E

Written By gitalara on 25 Mei, 2012 | 25.5.12

Cipt : NN

ININNAWA SABBARAE 2X
LOLONGENG GARE DECENG
ALLA TOSABBARAEDE

PITU TAUNNA SABBARA 2X
TENGGINANG KULOLONGENG
ALLA RI YASENGNGE DECENG

DECENG ENREKKI RI BOLA 2X
TEJJALI TETAPPERE
ALLA BANNA MASE-MASE

MASE-MASE IDINAGA 2X
RISURO MATTARANA
ALLA MUTEA MABELA

MABELAMPI KUTIROKI 2X
MUJOPPA ALE-ALE
ALLA MUTELLU SITINRO

TELLU MEMENGNGA SITINRO 2X
NYAWAKU NA TUBUHKU
ALLA PASSENGERENGNGEDE

SENGERENGMU PADA BULU 2X
ADATA SILAPPAE
ALLA RUTTUNGENG MANENGNGI

Bedah Lagu : Ongkona Bone

Lagu dengan judul Ongkona Bone tersusun dari syair-syair / kalimat yang menggunakan bahasa Lontara atau bahasa Bugis. Dan telah disepakati sebagai lagu wajib bagi masyarakat Kabupaten Bone baik di tingkat sekolah maupun umum.. Tulisan ini kami angkat ke publik. karena banyak kalangan bugis khususnya bugis Bone yang menyalahartikan  makna lagu  tersebut. Berikut penjelasan kami

Lagu ONGKONA BONE  biasanya dinyayikan dalam kegiatan seremonial Hari Jadi Bone atau pada kegiatan lomba yang diselenggarakan di sekolah-sekolah baik bentuk solo maupun paduan suara. Lagu Ongkona Bone sampai saat ini belum diketahui dengan pasti kapan diciptakan dan siapa penciptanya. Namun apabila kita membedah bahasanya serta menghubungkan dengan sejarah , maka kemungkinan besar lagu tersebut tercipta sekitar tahun 1905 yaitu pada saat terjadinya perang antara Kerajaan Bone melawan pasukan Belanda. Ribuan laskar kerajaan Bone yang gugur dalam pertempuran itu. Di sepanjang pantai Teluk Bone diserang habis-habisan oleh tentara Belanda. Karena persenjataan yang tidak seimbang, maka tentara Belanda berhasil menguasai kerajaan Bone. Jatuhnya Kerajaan Bone inilah yang dikenal Peristiwa Rumpa’na Bone 1905.

Lagu Ongkona Arungpone atau lebih dikenal Ongkona Bone seperti telah dipaparkan di atas, terjalin dari syair-syair yang mengandung makna, nilai, dan nasihat yang sangat dalam. Dapat diuraikan sebagai berikut :

1. Makna dan Bedah Syair

Lagu Ongkona Bone mengisahkan seorang isteri melepas sang suami berangkat ke medan juang untuk mempertahankan Tana Bone dari serangan armada laut Belanda. Sang suami sebagai laskar Kerajaan Bone tentu berkewajiban mempertahankan Tana Bone sejengkal demi sejengkal hingga titik darah penghabisan. Dengan iringan doa restu sang isteri maka berangkatlah sang suami bertempur melawan tentara Belanda di pantai BajoE. Setelah tujuh hari tujuh malam pertempuran berkecamuk, maka terdengar kabar bahwa suaminya telah gugur. Namun sang isteri tidak yakin begitu saja kalau suaminya telah gugur. Maka sang isteri berangkat mencari suaminya. Tak peduli siang atau malam , tetap berjalan dan mencari tahu akan keberadaan suaminya.

Dikala sang isteri beristirahat dalam pencariannya, maka mereka bersenandung untuk menghibur diri dan merenungi nasibnya :

O ... Mate Colli, Mate Collini Warue (Waru adalah sebuah nama pohon/tumbuhan dalam bahasa Bugis disebut Kubba. Pohon Kubba tersebut memilki ranting mengandung getah yang dapat digunakan untuk membuat keriting rambut)

Ritoto baja-baja alla Ritoto baja-baja ( Setiap hari dipangkas)

Alla nariala kembongeng ( Diambil untuk dijadikan kembongeng. Kembongen artinya alat penggulung rambut dari pohon Kubba / pohon waru )

O ... Macilaka, Macilakani Kembongeng ( celakalah penggulung rambut )

Nappai ribala-bala alla nappai ribala-bala ( baru dibentuk-bentuk)

Namate puangna (puangna bermakna simbolis artinya pohon kubba/ waru, mati karena setiap hari dipangkas untuk dijadikan penggulung rambut)

O ... Taroni Mate, Taroni Mate Puangna ( Biarlah mati , biarlah mati pohon Kubba / Waru)

Iyapa upettu rennu alla iyapa upettu rennu ( barulah putus harapan dan menyerah )

Kusapupi mesana ( Bila kupegang batu nisannya)

Penjelasan :
Sang isteri menggulung rambutnya agar menjadi indah dengan maksud untuk menghadiahkan kepada suaminya apabila kembali dari medan peperangan. Akan tetapi pohon Waru / Kubba menjadi layu dan mati karena setiap hari dipangkas untuk dijadikan sebagai penggulung rambut/kembongeng. Padahal rambutnya baru mulai terbentuk, apa daya pohon waru/kubba keburu layu dan mati.

Matinya pohon waru/kubba sebenarnya merupakan sebuah alamat atau pertanda bahwa suaminya telah tewas dalam peperangan. Namun Sang isteri tetap bersemangat. Ditanamkan dalam hati , bahwa suaminya belum meninggal. Kecuali memegang dan mengusap batu nisannya baru percaya.

2. Nilai Syair

Seperti halnya dengan lagu-lagu lain, maka syair-syair yang terjalin dalam lagu Ongkona Bone juga mengandung dan sarat dengan nilai-nilai. Nilai- nilai yang terkandung adalah :

* Memupuk Jiwa Patriotisme dan Nasionalisme.

* Bahwa setiap perjuangan memerlukan pengorbanan baik jiwa, raga, dan materi.

* Menggambarkan, bahwa kepentingan umum walau pahit dan getir lebih mulia dibanding kepentingan pribadi.

* Mengandung nilai historis

3. Pesan dan Nasihat
Perlu dipahami , bahwa syair-syair yang terkandung dalam lagu Ongkona Bone terdiri atas tiga bagian, yakni bait pertama dan kedua bermakna simbolis atau pelambang sedang bait ketiga mengandung semangat. Mate Colli bukanlah bermakna layu sebelum berkembang akan tetapi dalam dunia seni hanya menggambarkan kemampuan ekspresi seseorang dalam menyampaikan sebuah pesan.

Namate Puangna bukanlah bermakna Tuhan yang mati akan tetapi sejenis tumbuhan yang disebut pohon waru/kubba yang dijadikan sebagai simbol bagi penciptanya. Mengapa pohon tersebut mati ? Karena setiap hari dipangkas untuk dijadikan sebagai alat penggulung rambut. Ranting pohon tersebut memilki getah yang dapat membuat rambut menjadi keriting.

Pada hakikatnya pesan/nasihat yang terkandung dalam syair lagu Ongkona Bone adalah :

* Janganlah mudah mempercayai informasi yang kurang jelas dan tidak bertanggung jawab.

* Setiap pekerjaan harus dilandasi dengan semangat.

* Syair lagu merupakan ungkapan cipta, rasa, dan karsa.

Oleh : Mursalim, S.Pd., M.Si. 

(Direktur Lembaga Seni Budaya Teluk Bone)

Ungkapan To Riolo


Di kalangan Bangsa Bugis, mungkin tidak asing di telinga kita ungkapan-ungkapan leluhur (To Riolota). Ungkapan Tradisonal sebagai aspek budaya yang diakui mengandung nilai-nilai yang perlu dilestarikan. Hal semacam ini sekarang sudah sangat langka. Hanya sesekali ada terdengar diucapkan oleh orang-orang tua disaat ada pertemuan tradisi (acara Budaya). Selain kandungan yang ada didalamnya juga segi sastranya sangat halus, sampai tidak mudah dibuat oleh orang.
Ungkapan ini biasanya disampaikan kepada anak untuk melakukan sesuatu kebiasaan baik yang baik maupun tidak baik, tetapi membuatkan semacam sebab akibat yang sangat ditakuti oleh si anak. Misalnya ibu mati, dia bisa pendek umur, ia terlambat besar. Begitu pula sebaliknya, ada yang sesungguhnya diperintahkan melakukannya, dengan akibat baik apabila dilakukannya.
Beberapa Ada-ada To Riolo yang merupakan nasihat orang tua kepada anaknya antara lain sebagai berikut:
1.MAUNI COPPO' BOLANA GURUTTA' RIUJA MADORAKAMONI'
Artinya : Walaupun bubungan atap rumah Guru yang dicela, maka kita pun berdosa.
FungsI : Agar anak senantiasa menghormati Gurunya.
Nilai : Pendidikan akhlak.

2.AJA' MUOPPANG NASABA MATEI MATI INDO'MU
Artinya : Jangan Engkau tidur tengkurap/ meniarap, nanti mati ibumu.
Fungsi : Supaya anak menghentikan kebiasaan yang merugikan dirinya yakni bisa berakibat sesak nafas
Nilai : Pendidikan kesehatan.

3. NAREKKO PURANI RIACCINAUNGI PASSIRING BOLANA TAUWE TEMPEDDINNI RINAWA-NAWA MAJA
Artinya : Kalau kita sudah berteduh dibawah atap rumahnya seseorang, sudah tidak boleh lagi dibenci (diusahakan ia binasa).
Fungsi : Supaya anak tahu menghargai budi orang lain.
Nilai : Pendidikan akhlak

4. AJA MULEU RI TANAE, KONALLEKKAIKO MANU-MANU MATEITU INDO'MU
Artinya : Jangan kamu baring ditanah, karena kalau ada burung melewatimu ibumu akan mati.
Fungsi : Supaya anak jangan mengotori dirinya.
Nilai : Pendidikan kesehatan.

5. AJA MUALA AJU PURA RETTE' WALIE NAKOTENNA IKO RETTE'I, AJA' TO MUALA AJU RIPASANRE'E, KOTENNA IKO PASANREI
Artinya : Jangan kau ambil kayu yang sudah dipotong ujung dan pangkalnya. Dan jangan pula engkau ambil kayu yang tersandar, kalau bukan kau yang sandarkan.
Fungsi : Supaya anak tahu menghargai hak orang lain.
Nilai : Pendidikan kejujuran.

6. AJA MUINUNG TETTONG, MALAMPEI LASOMU
Artinya : Jangan minum berdiri, nanti panjang kemaluanmu.
Fungsi : Supaya gelas tidak jatuh/pecah.
Nilai : Memelihara keselamatan barang.

7. AJA MUNAMPUI TANAE, MATARUKO
Artinya : Jangan menumbuk tanah, karena kamu bisa jadi tuli.
Fungsi : Supaya anak tidak mengotori dirinya sendiri.
Nilai : Pendidikan kebersihan.

8. NGOWA NA KELLAE, SAPU RIPALE PAGGANGKANNA
Artinya : Loba dan tamak, berakibat kehampaan.
Fungsi : Supaya anak tahu mensyukuri yang ada (sedikit tapi halal).
Nilai : Pendidikan untuk menghormati hak orang lain (tidak serakah)

9. AJA MUANRE TEBBU RI LEUREMMU, MATEI INDO'MU
Artinya : Jangan makan tebu ditempat tidurmu, akan mati ibumu.
Fungsi : Supaya anak tidak kotor, dan dikerumuni semut.
Nilai : Pendidikan kebersihan.

10. RICAU AMACCANGNGE, RIABBIASANGENGNGE
Artinya : Kalah kepintaran dari kebiasaan atau pengalaman.
Fungsi : Supaya anak rajin membiasakan diri belajar.
Nilai : Pendidikan kepatuhan.

11. Aja Muakkelong Riyolo Dapureng, Tomatowa Matu Muruntu’
Artinya : Jangan menyanyi di muka dapur, jodohmu nanti orang tua.
Fungsi : Supaya anak tahu menempatkan sesuatu pada posisinya masing-masing.
Nilai : Pendidikan ketertiban.

12.GETTENG LEMPU ADATONGENG
Artinya : Tegas, jujur serta berkata benar.
Fungsi : Supaya anak teguh pada pendirian,,jujur, dan berbudi bahasa yang baik.
Nilai : Pendidikan mental.

13. Aja Mubuangi Sanru’e, Maponco Sunge tauwe.
Artinya : Jangan menjatuhkan sendok, kita pendek umur.
Fungsi : Supaya sendok tak jatuh kotor.
Nilai : Pendidikan kebersihan.

14. Komuturusiwi Nafessummu, padaitu mutonanginna lopi Masebbo’E.
Artinya : Kalau kamu menuruti nafsumu, sama saja engkau menumpang perahu bocor.
Fungsi : Kalau tidak tahu mengendalikan diri, pasti binasa.
Nilai : Pendidikan untuk mengendalikan diri (amarah).

15. Engkatu Ada Matarengngi Nagajangnge.
Artinya : Ada perkataan lebih tajam dari keris.
Fungsi : Supaya anak memelihara selalu bahasanya kepada orang lain.
Nilai : Pendidikan akhlak.

16. Naiyya Balibolae, Padai Selessurengnge.
Artinya : Adapun tetangga itu sama dengan saudara.
Fungsi : Supaya kita menghormati tetangga.
Nilai : Pendidikan akhlak bermasyarakat.

17. Aja Mutudang risumpangnge, Mulawai dalle’E.
Artinya : Jangan duduk dimuka pintu, kau menghambat rezeki.
Fungsi : Supaya anak tidak menghalangi orang yang mau lewat.
Nilai : Pendidikan Tatakrama.

18. Rekko Mupakalebbi’i Tauwe, Alemutu Mupakalebbi.
Artinya : Kalau kamu memuliakan orang, berarti dirimulah yang kau muliakan.
Fungsi : Agar anak senantiasa memuliakan dan menghargai orang lain.
Nilai : Pendidikan Tatakrama.

19. Aja’ Muasseringangngi Pale’mu, Sapu ripalekko.
Artinya : Jangan jadikan sapu telapak tanganmu, nanti kamu hampa tangan.
Fungsi : Supaya anak jangan mengotori tangannya, dan bisa kena benda tajam.
Nilai : Pendidikan kebersihan.

20. Aja Mutudangiki angkangulungnge, malettakko.
Artinya : Jangan menduduki bantal, nanti kau kena bisul.
Fungsi : Agar anak tidak merusak alat tempat tidur.
Nilai : Pendidikan untuk tetap memelihara peralatan.

21. Anreo Dekke inanre, Namalampe Welua’mu.
Artinya : Makanlah Nasi yang hangus pada dasar periuk supaya panjang rambutmu.
Fungsi : Membuat anak mau saja makan nasi yang tidak baik (hangus).
Nilai : Pendidikan pembiasaan anak tidak mubazir.

22. Resopa Natemmangingngi, Malomo nNletei Pammase Dewata Artinya : Hanya kerja disertai ketekunan, mudah mendatangkan rezeki Tuhan. Fungsi : Agar anak tidak malu bekerja keras untuk mendapat rezeki. Nilai : Pendidikan kerajinan dan ketekunan.

23. Naiyya Olokolo’E Tuluna Riattenning, Naiyya Tauwe Adanna Riattenning.
Artinya : Kalau binatang, talinyalah yang dipegang, kalau manusia perkataannya yang dipegang.
Fungsi : Agar anak konsisten dapat menepati perkataannya. Nilai : Pendidikan kejujuran (akhlak).

24. Cicemmitu tauwe Tai ri lalengnge, Idi’na sini riaseng. Artinya : Sekali kita berak di jalan, maka kitalah yang selalu dituduh.
Fungsi : Jangan sekali-kali kita berbuat yang tidak baik, karena selalu kitalah yang dituduh kalau ada perlakuan yang sama.
Nilai : Pendidikan anak jangan melakukan yang buruk.

25. Panni’na manue muanre, Malessiko lari.
Artinya : Sayapnyalah ayam yang kau makan, jadinya kau kuat lari.
Fungsi : Supaya anak tidak manja dalam memilih makan.
Nilai : Pendidikan agar anak tidak membuat masalah terhadap makanan keluarga.

26. AJA MURENNUANGNGI ANU DEE RI LIMAMMU
Artinya : Janganlah engkau terlalu mengharapkan apa yang belum ada pada tanganmu.
Fungsi : Supaya tidak terlalu berani mengharapkan barang (uang) yang belum tentu didapat (hari) itu.
Nilai : Peringatan agar tidak meremehkan janji, sampai salah jadinya.

ManurungngE Riwayatmu Dulu

Raja Bone ke-1 Laubbi' dengan Gelaran ManurungngE ri Matajang, Mata SilompoE (1330–1365)

Konflik Antar Kalula::

Selama tujuh pariama (diperkirakan kurang-lebih 70 tahun) yang disebut sebagai Bone pada awalnya hanya meliputi tujuh unit anang (kampung) yakni; Ujung, Ponceng, Ta’, Tibojong, Tanete Riattang, Tanete Riawang, dan Macege, tenggelam dalam situasi konflik yang berkepanjangan. Kondisi ini dalam bahasa Bugis dikenal dengan istilah Sianre Bale, dimana yang kuat memangsa yang lemah atau siapa yang kuat itulah yang menangng (hukum rimba). Luas Bone pada masa itu terbilang lebih kecil dari Ibukota Kabupaten Bone, Watampone sekarang.

Masing-masing Anang dipimpin oleh seorang Kalula (gelar pemimpin kelompok). Situasi politik ini merupakan akibat langsung dari kondisi tidak adanya (lagi) tokoh yang mereka anggap sebagai pemimpin besar yang dapat mempersatujuan visi dan misi ke tujuh anang tersebut. Menurut lontara’, hal ini secara implisit dijelaskan dalam Sure’ La Galigo, lebih disebabkan oleh punahnya (sudah tidak terdeteksinya) keturunan-keturunan La Galigo di Bone. Ketujuh pemimpin (kalula) kelompok masyarakat (anang) saling mengklaim “hak” atas kepemimpinan wilayah Bone tersebut. Ada juga budayawan yang menyebut Kalalu Anang Cina, Barebbo, Awampone dan Palakka sudah turut dalam perjanjian ManurungE dengan orang Bone, namun karena kurangnya data/lontara’ yang mendukung, penulis menafikan pernyataan tersebut.

Konflik antar kalula berlangsung selama bertahun-tahun. Masing-masing mengklaim sebagai keturunan La Galigo yang karena keterbatasannya tidak mampu menunjukkan bukti-bukti (mereka belum mengenal silsilah), merasa berhak atas kepemimpinan dikalangan kalula. Semangat kejahiliyah-an membara untuk saling atas - mengatasi sehingga perang saudara (kelompok) tidak bisa dihindari.

Catatan: PARIAMA ARTINYA SATU DASAWARSA (ada yang menafsir satu pariama sama dengan seratus tahun, ada pula yang mengatakan sepuluh tahun; namun beberapa informasi dari lontara’ lebih rasional mengikuti yang sepuluh tahun).

PENGERTIAN KATA "MANURUNGNGE"
ManurungngE, berasal dari bahasa Bugis yang dalam terjemahan bebasnya berarti “orang yang turun dari ketinggian“. Dalam aturan bahasa Bugis, khususnya Bugis Bone, akhiran E dipakai untuk menunjuk kata kepunyaan atau empunya, akhiran ‘nya’ dalam bahasa Indonesia. Sehingga akhiran E pada kata Manurung yang diikutinya akan menunjukkan arti dialah orang yang turun dari ketinggian.
Kepercayaan Bugis-Makassar sebelum mengenal Islam, ManurungngE atau Tu Manurung ( Makassar) dianggap sebagai perwujudan Tuhan, Dewa (Bugis Bone: Dewata SeuwwaE); manusia yang turun dari langit, namun bukan sebagai manusia pertama (Adam). Namun seiring perkembangan zaman dan pengetahuan, sulit rasanya untuk menerima argumen-argumen to-riolo (nenek moyang). Sejumlah asumsi yang dibangun oleh ahli sejarah pun tidak cukup memberikan pemahaman yang memadai kepada kita dikarenakan kurangnya bahan kajian. Satu hal penting yang disepakati oleh para budayawan adalah bahwa ManurungngE merupakan manusia yang mempunyai kelebihan dibandingkan manusia lainnya; pandai dan mempunyai wawasan yang lebih luas dibandingkan masyarakat sekitarnya.

Hal ini juga dipertegas dalam lontara’ yang mengisahkan adanya sekelompok masyarakat yang menyambutnya kemudian memintanya untuk menjadi raja/mangkau’. Oleh sebab itu, disinyalir To Manurung sebagai orang suci yang sedang dalam perjalanan spiritual. Namun, kemudian terdampar pada sebuah daerah (red Bone-Bugis) yang ‘kebutulan’ belum memiliki sosok pemimpin/raja.

Berbeda dengan di daerah lain, sebut misalnya di pulau Jawa, yang banyak meninggalkan jejak sejarah seperti prasasti yang informasinya dapat bertahan lama. Oleh sebab itu, lontara’ harus diletakkan pada posisi terdepan sebagai bahan kajian untuk mengungkap misteri perjalanan suku-suku di Sulawesi yang perlu dikaji lebih mendalam lagi.

Selain di Nederland-Belanda, keberadaan lontara yang mempunyai informasi penting mengenai sejarah Kerajaan Bone, khususnya kebudayaan Bugis-Makassar, disinyalir masih banyak berserakan di tangan-tangan penduduk Bugis-Makassar. Namun ada kepercayaan benda-benda sejarah ini memiliki “tuah” sehingga mereka enggan memberikan kepada peneliti. Mereka masih percaya bahwa dengan memegang lontara,kewibawaan mereka akan tetap terjaga dan senantiasa dihormati oleh masyarakat?.

BERDIRINYA KERAJAAN BONE

Dalam lontara’ disebutkan, ketika keturunan dari Puatta Menre’E ri Galigo malawini darana (bangsawan dan rakyat-biasa sudah tidak bisa dibedakan sebagai akibat perkawinan) terjadi kekacauan yang luar biasa karena ketiadaan sosok pimpinan yang berasal dari bangsawan (Manurung). Keadaan Bone saat itu, chaos. Norma-norma hukum tidak berlaku, adat-istiadat dipasung, kehidupan ummat tak ubahnya binatang di hutan belantara, saling memangsa, dan saling membunuh (hukum rimba). Bone butuh sosok pemimpin, namun dari kalangan mereka tidak ada yang saling mengakui keunggulan satu sama lain.

Ketika konflik tengah berlangsung, sebuah gejala alam yang mengerikan melanda wilayah Bone dan sekitarnya. Gempa bumi terjadi demikian dahsyatnya, angin puting beliung menerbangkan pohon beserta akar-akarnya, hujan lebat mengguyur alam semesta dan gemuruh guntur diiringi lidah kilatan petir yang menyambar datang silih berganti selama beberapa hari. Gejala alam seperti ini juga diceritakan dalam pararaton (Kitab Raja-raja) dan prasasti peninggalan kerajaan Majapahit.

Sesaat setelah hujan reda, dari ufuk timur muncullah bianglala. Tidak berapa lama, di tengah padang nampak segumpal cahaya yang menyilaukan mata, muncul sosok manusia mengenakan pakaian serba putih (pabbaju puteh). Karena tak seorang pun yang mengenalnya, orang-orang menganggapnya sebagai To Manurung, manusia yang turun dari langit. Cerita kemunculan To Manurung ini cepat menyebar di kalangan Kalula. Dan mereka pun mengunjungi Sang Misteri. Para Kalula Anang (pemimpin kelompok) kemudian mengorganisir diri berembuk untuk, dan sepakat, mengangkat To Manurung menjadi raja mereka. Bersama dengan orang banyak yang berkumpul tersebut, para Kalula kemudian berkata seperti di bawah ini dalam terjemahan bahasa Indonesia :

    "Kami semua datang ke sini memintamu agar engkau tidak lagi mallajang (menghilang). Tinggallah menetap di tanahmu agar engkau kami angkat menjadi mangkau’. Kehendakmu adalah kehendak kami juga, perintahmu kami turuti. Walaupun anak isteri kami engkau cela, kamipun akan turut mencelanya asal engkau mau tinggal.

Orang yang disangka To Manurung menjawab,

    ”Bagus sekali maksud tuan-tuan, namun perlu saya jelaskan bahwa saya tidak bisa engkau angkat menjadi Mangkau sebab sesungguhnya saya adalah hamba sama seperti engkau. Tetapi kalau engkau benar-benar mau mengangkat mangkau’, saya bisa tunjukkan orangnya. Dialah bangsawan yang saya ikuti.”

Orang banyak berkata,

    “Bagaimana mungkin kami dapat mengangkat seorang mangkau yang kami belum melihatnya?”.

Orang yang disangka To Manurung menjawab,

    ”Kalau benar engkau mau mengangkat seorang mangkau, aya akan tunjukkan tempat matajang (terang), disana lah bangsawan itu berada”.

Orang banyak berkata,

    ”Kami benar-benar mau mengangkat seorang mangkau, kami semua berharap agar engkau dapat menunjukkan jalan menuju ke tempatnya”.

Orang yang disangka To Manurung bernama Puang Cilaong, mengantar orang banyak tersebut menuju kesuatu tempat yang terang dinamakan Matajang (berada dalam kota Watampone sekarang yaitu disekitar jalan manurungnge). Gejala alam yang mengerikan tadi kembali terjadi. Halilintar dan kilat sambar menyambar, angin puting beliung dan hujan deras disusul dengan gempa bumi yang sangat dahsyat. Setelah keadaan reda, nampaklah To Manurung yang sesungguhnya duduk di atas sebuah batu besar dengan pakaian serba kuning. To Manurung tersebut ditemani tiga orang yaitu; satu orang yang memayungi teddumpulaweng (payung berwarna kuning keemasan), satu orang yang menjaganya dan satu orang lagi yang membawa salenrang. To Manurung,

    ”Engkau datang Matowa?”

     MatowaE menjawab,

    ”Iyye', Puang”.

Barulah orang banyak tahu bahwa yang disangkanya To Manurung itu adalah seorang Matowa. Matowa itu mengantar orang banyak mendekati To Manurung yang berpakaian kuning keemasan. Berkatalah orang banyak kepada To Manurung,

    ”Kami semua datang ke sini untuk memohon agar engkau menetap. Janganlah (lagi) engkau mallajang (menghilang). Duduklah dengan tenang agar kami mengangkatmu menjadi mangkau’. Kehendakmu kami ikuti, perintahmu kami laksanakan. Walaupun anak isteri-kami engkau cela, kami pun (turut) mencelanya. Asalkan engkau berkenan memimpin kami”

Manurung menjawab,

    ”Apakah engkau tidak membagi hati dan tidak berbohong?”

Setelah terjadi tawar menawar, semacam kontrak sosial, antara To Manurung dengan orang banyak (kalula anang), dipindahkanlah Manurung ke Bone untuk dibuatkan salassa atau Langkana (istana),dan Silassa (kursi). To Manurung tersebut tidak diketahui namanya sehingga orang banyak menyebutnya ManurungngE ri Matajang.

Salah satu kelebihannya yang menonjol adalah jika datang di suatu tempat dan melihat banyak orang berkumpul dia langsung mengetahui jumlahnya, sehingga digelar Mata SilompoE. ManurungE ri Matajang inilah yang menjadi Mangkau’ pertama di Bone.

Adapun yang dilakukan oleh ManurungngE ri Matajang setelah diangkat menjadi Mangkau’ di Bone adalah – Mappolo Leteng (menetapkan hak-hak kepemilikan orang banyak), Mappasikatau (meredakan segala macam konflik horisontal) dan Pangadereng (mengatur tatacara berinteraksi sesama masyarakat). ManurungE ri Matajang pula yang membuat bendera kerajaan yang bernama WoromporongngE berwarna merah dan putih mirip bendera Republik Indonesia sekarang.

Setelah genap eppa pariyama (empat dekade ) memimpin orang Bone, dikumpulkanlah seluruh orang Bone dan menyampaikan,

    ”Duduklah semua dan janganlah menolak anakku La Ummasa untuk menggantikan kedudukanku. Dia pulalah nanti yang melanjutkan perjanjian antara kita (ketika menunjuk/meengangkat aku sebagai Mangkau’ Bone”.

Hanya beberapa saat setelah mengucapkan kalimat itu, kilat dan guntur sambar menyambar. Tiba-tiba ManurungngE ri Matajang dan ManurungE ri Toro menghilang dari silassana atau tempat duduknya. Salenrang dan teddum-pulaweng (payung kuning keemasan) turut pula menghilang membuat seluruh orang Bone heran. Oleh karena itu diangkatlah anaknya yang bernama La Ummasa menggantikannya sebagai Mangkau’ di Bone.

KETURUNAN

ManurungngE ri Matajang kawin dengan We Tenri Wale ManurungE ri Toro. Dari perkawinan itu lahirlah La Ummasa, We Pattanra Wanuwa, dan We’ Samateppa (lima bersaudara, dua diantaranya tidak tercatat [belum] ditemukan dalam lontara’).

Namun, berdasarkan laporan penelitian dari tim Royal Ark diperoleh informasi bahwa hasil perkawinan Manurung-E ri Matajang dengan We Tenri Wale-Manurung-E ri Toro mempunyai dua orang putera dan empat orang putri yakni:

    Bolong-Lelang, meninggal masa kanak-kanak;
    La Ummasa To Mulaiye Panreng, yang selanjutnya menjadi Arumpone kedua;
    We’ Tenri Ronrong, meninggal masa kanak-kanak;
    We Pattanra Wanuwa, kawin dengan La Pattikkeng-Arung Palakka. Dari hasil perkawinan ini lahirlah Latenri Longorang, La Saliyu Karampeluwa Pasadowakki yang selanjutnya menggantikan pamannya menjadi Arumpone, We Tenri Pappa yang kawin dengan La Tenri Lampa-Arung Kaju, We Tenri Ronrong kawin dengan dengan La Paonro-Arung Pattiro;
    We Tenri Salogan kawin dengan La Ranringmusu-Arung Otting; dan
    We Arantiega kawin dengan La Patongarang-arung Tanete

CATATAN :
Awal berdirinya Kerajaan Bone atas dasar: musyawarah, diangkat secara langsung oleh ketua kelompok (Anang) yaitu sepadan dengan wakil rakyat di DPR sekarang, pemimpin diangkat untuk kepentingan bersama bukan atas dasar kepentingan golongan atau kelompok.
TIDAK SEPERTI SEKARANG INI YANG MEMENTINGKAN PARTAI DAN KELOMPOKNYA SEHINGGA MELUPAKAN RAKYATNYA. AKHIRNYA DISERANG PENYAKIT    L  U   P   A 

Bangsa Bugis

LOJENG PULAWENG

Bone Dalam Berita

GITALARA

 
Copyright © 2007. Teluk Bone - All Rights Reserved